Cara mengawetkan pakan hijauan ternak penting diketahui ketika persediaan rumput sedang melimpah, terutama untuk menghadapi musim kemarau. Pengawetan membantu menjaga ketersediaan pakan sehingga hijauan tidak langsung terbuang ketika jumlahnya lebih banyak dari kebutuhan ternak.
Ada beberapa metode yang dapat dipilih untuk menjaga hijauan tetap awet, seperti membuat silase dan hay. Setiap metode memiliki tahapan berbeda, sehingga pemilihan cara perlu menyesuaikan jenis hijauan, kondisi lingkungan, serta kebutuhan pakan ternak.
Pengawetan hijauan dapat dilakukan dengan beberapa metode, terutama melalui fermentasi dan pengeringan. Dua metode yang cukup umum yaitu membuat silase dan hay, dengan masing-masing cara memiliki proses penyimpanan yang berbeda.
Sebelum diawetkan, hijauan sebaiknya dipilih dalam kondisi baik dan bebas dari bagian yang busuk. Peternak juga perlu menyesuaikan metode dengan jenis hijauan, kondisi cuaca, serta kebutuhan pakan ternak agar hasil penyimpanan tetap berkualitas.
Silase merupakan pakan hijauan yang diawetkan melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme. Bahan yang dapat digunakan cukup beragam, seperti rumput, tebon jagung, tebon padi, daun kacang tanah, dan berbagai hijauan lainnya.
Hijauan perlu dipotong menjadi ukuran sekitar 5–10 cm agar lebih mudah dicampur dan dipadatkan. Setelah itu, bahan dapat dicampur dengan bahan pendukung seperti dedak, bekatul, menir, onggok, atau tetes tebu sesuai kebutuhan sebelum dimasukkan ke dalam silo atau kantong plastik.
Setelah semua bahan tercampur, masukkan campuran secara bertahap ke dalam wadah penyimpanan. Setiap bagian perlu dipadatkan agar tidak terdapat banyak rongga udara di antara potongan hijauan.
Selanjutnya, tutup wadah dengan rapat menggunakan plastik dan berikan pemberat jika diperlukan. Kondisi yang minim udara membantu proses fermentasi berlangsung dengan baik sehingga hijauan dapat disimpan sebagai persediaan pakan.
Hay merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara menurunkan kadar air hingga cukup rendah untuk penyimpanan. Rumput yang akan dibuat menjadi hay sebaiknya memiliki tekstur halus atau batang yang tidak terlalu kasar sehingga lebih mudah kering.
Rumput dapat dipotong terlebih dahulu kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Selama proses pengeringan, hijauan perlu dibolak-balik agar bagian yang terkena sinar matahari lebih merata dan kadar airnya dapat berkurang dengan baik.
Pengeringan hay dapat dilakukan langsung di lahan, di lantai jemur, atau menggunakan rak. Jika menggunakan lantai jemur, permukaan semen dapat membantu menjaga hijauan tetap bersih sekaligus membuat proses pengeringan lebih praktis.
Peternak juga dapat mengeringkan hijauan di atas rak agar sirkulasi udara dari bagian bawah lebih baik. Pada kondisi tertentu, tanaman seperti jagung dapat dibiarkan mengering di lahan setelah bagian yang dipanen diambil, selama kondisi lingkungan mendukung proses pengeringan.
Kadar air menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas hay. Hay yang baik umumnya memiliki kadar air sekitar 15–20 persen karena kadar air yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko pertumbuhan jamur dan mikroorganisme yang merusak pakan.
Selain kadar air, kualitas hay dapat dilihat dari warna hijau kekuningan, tidak berbau busuk, tidak berjamur, serta tidak memiliki titik-titik hitam. Teksturnya juga sebaiknya tidak terlalu rapuh agar tidak mudah hancur ketika dipindahkan atau dikemas.
Hay yang sudah kering perlu disimpan di gudang yang terlindung dari air dan kelembapan. Peternak dapat memberikan alas kayu agar hay tidak bersentuhan langsung dengan lantai, sedangkan bagian atap perlu dipastikan tidak bocor.
Sirkulasi udara juga perlu diperhatikan agar kondisi gudang tidak terlalu lembap maupun terlalu panas. Hay dapat disusun dengan rapi dan padat sehingga penggunaan ruang penyimpanan menjadi lebih efisien tanpa mengabaikan kondisi pakan.
Cara mengawetkan pakan hijauan ternak dapat dilakukan melalui pembuatan silase dan hay. Silase memanfaatkan proses fermentasi, sedangkan hay mengawetkan hijauan dengan menurunkan kadar air melalui pengeringan, sehingga keduanya dapat menjadi pilihan untuk menyediakan cadangan pakan.
Selain metode pengawetan, kualitas bahan dan cara penanganan hijauan juga perlu diperhatikan. Proses pencacahan dapat membantu menyiapkan hijauan sebelum masuk tahap pengawetan, sehingga informasi mengenai manfaat mesin pencacah rumput dapat menjadi referensi bagi peternak. Berbagai mesin pengolahan lainnya juga dapat ditemukan melalui Rumah Mesin.
Halo, aku Vana. Aku suka menulis artikel yang membahas bisnis, kuliner, dan perlengkapan dapur. Semoga tulisan yang kubagikan bisa menambah wawasan dan memberikan manfaat untuk para pembaca.