Harga Jahe Merah di Indonesia Beserta Ciri Cirinya

Harga Jahe Merah di Indonesia Beserta Ciri Cirinya

Harga Jahe Merah

Pada artikel kali ini kita akan membahas mengenai harga jahe merah di indonesia beserta dengan ciri cirinya.

Indonesia sendiri adalah satu diantara negara penghasil jahe merah paling besar di Dunia sesudah negara India karena cara menanam jahe merah ini cukup mudah.
Pada jaman dulu orang-orang di negara belanda ini banyak sekali yang memakai tanaman jahe ini sebagai tanaman untuk penghangat badan.
Bahkan juga penjajah dari belanda dulunya juga mengeskpor dari komoditas tanaman jahe ini ke benua Eropa, karena baunya yang harum dan mempunyai banyak sekali faedah atau manfaat.
Jadi salah satu argumen kenapa nilai jual dari jahe ini sangat di tinggi di pasaran dunia bahkan juga nyaris setara dengan harga perhiasan emas.
apabila dilihat dari fisiknya jahe ini.
Tanaman jahe merah ini sendiri nyaris mirip dengan batang semu yang tinggi dari batang tanaman jahe ini pada sekitaran 30cm hingga 100cm.
Dan akar dari tanaman jahe ini juga biasanya berwarna kuning serta berwarna kemerahan dan pada umumnya tanaman jahe merah ini memiliki bau yang begitu menyengat.

Jenis Jahe

Jahe ini sendiri terdiri dari berbagai jenis yang antara lain jahe putih atau kuning atau jahe sunti atau yang sering disebut jahe emprit.

Jahe jenis ini memiliki ruas yang sangat kecil, agak rata hingga agak sedikit menggembung.

Tanaman jahe jenis ini selalu dipanen dalam keadaan setelah berumur tua.

Kandungan dari minyak atsirinya jahe merah ini lebih besar daripada jahe gajah, sehingga rasanya akan lebih pedas.

Jahe jenis ini juga dinilai sangat cocok untuk ramuan atau obat-obatan.

Jenis jahe yang selanjutnya adalah jahe merah. Jahe merah ini sendiri memiliki ciri pada rimpangnya yang berwarna merah dan lebih kecil daripada jahe putih kecil.

Sama halnya seperti jahe kecil, jahe merah ini juga selalu dipanen pada saat tua.

Dan jahe merah ini juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama besarnya dengan jahe kecil, sehingga sangat cocok untuk ramuan berupa obat-obatan.

Dan apabila Anda ingin mencari jenis jahe yang bisa untuk dipanen pada saat berumur muda, Anda bisa memilih jahe gajah atau jahe badak (atau sering disebut juga jahe putih atau kuning besar).

Jahe Gajah Cina

Jahe gajah ini memiliki rimpang dengan ukuran yang lebih besar dan gemuk.

Ruas rimpangnya juga lebih menggembung dari kedua varietas pada sebelumnya.

Jahe ini bisa dikonsumsi sebagai jahe segar atau jahe olahan.

Rimpang dari tanaman jahe ini sudah dikenal sebagai bumbu untuk masak, pemberi aroma dan  rasa pada suatu makanan seperti halnya pada roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai olahan minuman lainnya.

Jahe juga dapat untuk digunakan pada industri pembuatan obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, dan di olah menjadi asinan jahe.

Selain itu, terdapat hasil dari olahan tanaman jahe yang lainnya yaitu berupa minyak atsiri serta koresin yang dapat di peroleh dengan cara penyulingan.

Minyak atsiri dari tanaman jahe ini berguna sebagai bahan untuk pencampuran di dalam minuman yang beralkohol, es krim, campuran untuk sosis dan lain-lain.

Tanaman jahe ini juga dapat untuk di buat sebagai biopestisida atau pestisida yang alami.

Hingga saat ini para petani di negara Indonesia masih menggunakan jahe ini sebagai pestisida untuk mengatasi hama dari tanaman cabe.

Selain bisa untuk di konsumsi untuk campuran ke dalam minuman, ramuan obat-obatan dan olahan lainnya.

Tanaman jahe ini ternyata juga merupakan salah satu komoditas untuk ekspor.

Akan tetapi, sayangnya kinerja dari ekspor tanaman jahe di negara Indonesia pada tahun 2018 kemarin bisa disebut sedang lesu.

Pasalnya, nilai jual dari tanaman jahe yang berasal dari Indonesia ini lebih murah di banding degan pasar internasional dibanding dengan jahe gajah yang berasal dari negara China.

Padahal, kualitas dari jahe di Indonesia dianggap sangat baik.

Statistik Jahe Tahun 2018

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat, bahwa ekspor jahe sepanjang bulan Januari sampai bulan Maret.

Pada tahun 2018 hanya senilai US$ 0,92 juta, merosot sekitar 13,54 persen.

Di bandingkan dengan periode sama di tahun 2017 yang telah mencapai US$ 1,06 juta.

Secara volume, ekspor dari tanaman jahe ini juga turun 1,12 persen dari 643,34 ton menjadi sekitar 636,11 ton.

Sementara dari itu, menurut Ketua dari Asosiasi Petani Jahe Organik (Astajo).

Kabul Indarto telah mengatakan bahwa jahe gajah dari negara China ini melimpah di pasar dengan harga yang sangat murah.

Yaitu hanya Rp 5.000 per kilogram. Bahkan, sesuai catatannya,  nilai jual dari jahe gajah China ini semakin turun menjadi sekiar Rp 3.500 per kilogramnya.

Padahal, nilai jual jahe di negara Indonesia di tingkatkan para petani lokal yang berada pada kisaran Rp 6.500 per kg.

Muryono, merupakan salah satu petani jahe yang berasal dari Jawa Tengah.

Ia mengklaim bahwa kualitas dari jahe Indonesia ini sebenarnya sangat di cari oleh para eksportir jahe.

Terutama dari negara timur tengah seperti Uni Emirat Arab, Pakistan, dan Arab Saudi.

Kenaikan Harga Jahe Mencapai 14.000

Akan tetapi beberapa tahun yang silam, pada saat harga jahe merah terjadi lonjakan jahe ini ke level Rp 14.000.

Para petani jahe di Indonesia sudah mulai bermain curang dengan menyiramkan air pestisida ke tanaman jahe.

Hal itu akan dapat menyebabkan tanaman menjadi layu dan akan dapat memberi kesan sudah siap untuk di panen.

Kepercayaan dari pembeli pun juga semakin mulai berkurang.

Menjelang hari perayaan Idul Fitri pada Tahun 2018 kemarin, harga dari jahe melonjak naik di Kota Saumlaki.

Yaitu di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Provinsi Maluku Indonesia.

Tidak hanya jenis jahe biasa saja, di Indonesia sendiri juga di kenal dengan produksi jenis jahe merah.

Berbeda halnya dengan dengan jahe jenis biasa, harga jahe merah ini di nilai sedang meningkat pada tahun 2019 ini.

Hal itu membuat para pembudidaya dan petani jahe merah di Kabupaten Lebak, Banten meraih keuntungan yang cukup besar setelah nilai jual jahe merah ini di tingkat penampung menjadi sekitar Rp 17.000 per kilo.

Selama ini, permintaan akan jahe merah pun juga semakin cukup tinggi sehingga akan menyumbangkan pendapatan dari ekonomi para pembudidaya atau petani jahe.

Produksi jahe merah ini sekitar 7 hingga 10 ton per pekan dan kebanyakan dari hasail petani Badui.

mereka mengembangkan tanaman jahe merah ini menggunakan sistem tanam tumpang sari dengan tanaman padi huma.

Para petani jahe merah ini di pastikan banyak mengeruk keuntungan, di karenakan nilai jual dari jahe ini di pasaran relatif bagus hingga sekitar Rp 17.000/kg.

Padahal, sebelumnya jahe merah ini dijual dengan harga Rp 10.000/kg.

Kenaikan dari harga jahe merah ini di anggap oleh pedagang jahe dan bumbu dapur ini di sebabkan sulit untuk mencari tanaman jahenya.

Jahe merah ini banyak di cari oleh masyarakat untuk keperluan minuman atau juga sebagai campuran untuk di jadikan jamu tradisional.