Ini Mesin Panen Padi Tradisional Dari Zaman ke Zaman

Halo semua, pada artikel kali ini saya akan membahas tentang Mesin Panen Padi Tradisional Dari Zaman ke Zaman. Yuk disimak baik-baik.

1. Alat Panen Padi Tradisional Ani-Ani

Ani-ani merupakan sebuah pisau kecil yang dipakai untuk memanen padi. Dengan ani-ani tangkai bulir padi dipotong satu persatu, sehingga proses ini memakan banyak waktu dan pekerja. Keuntungan menggunakan ani-ani adalah bulir padi yang belum masak tidak ikut terpotong.

Berbeda dengan penggunaan sebuah clurit atau arit, semua batang ikut terpotong. Dengan demikian, bulir yang belum masak  ikut terpotong.

Pada zaman dahulu kebanyakan petani kita memetik padi dengan menggunakan alat ani-ani karena waktu itu padi masih belum bisa menguning secara bersamaan, tidak seperti sekarang yang mana dengan teknik penanaman, pemupukan, dan lain sebagainya sehingga padi dapat menguning secara serentak.

Penggunaan alat ani-ani adalah proses awal memanen padi, adapun setelah tangkai padi dipetik dan dikumpulkan selanjutnya adalah memisahkan bulir padi dari batangnya dengan alat pemukul seperti kayu ( pada umumnya menggunakan alu ), nah agar buliran padi tidak ada yang tersisa di tangkainya maka proses selanjutnya digilas manual dengan kaki.

Saat ini ani-ani masih sering digunakan oleh para petani/buruh tani untuk memanen/memetik padi jenis ketan. Meskipun sudah ada juga yang memanen padi ketan dengan alat perontok modern.

Ani-ani adalahalat panen padi yang terbuat dari bambu berdiameter 10 – 20 mm, panjang ± 10 cm dengan tebal  pisau baja  1,5 – 3 mm. Penggunaan ani-ani dianjurkan untuk memotong padi varietas lokal yang berpostur tinggi.
Berikut tutorial pemanen padi dengan menggunakan ani-ani:

  • Arahkan dan tekan mata pisau pada malai padi yang akan dipotong.
  • Tempatkan malai diantara jari telunjuk dan jari manis tangan kanan.
  • Kemudian tarik malai padi ke arah pisau, sehingga malai terpotong.
  • Kumpulkan di tangan kiri atau masukkan kedalam keranjang.

Proses panen padi menggunakan alat ani-ani sudah mulai ditinggalkan, akan tetapi tidak semua petani meninggalkan cara pemanenan tradisional ini.

Salah satu lokasi yang masih menggunakan cara tersebut berada di subak Juwuk desa Sudaji di Kecamatan Sawan. Proses pemanenan tersebut dilakukan untuk melestarikan tradisi proses pemanenan secara tradisional.

2. Alat Panen Padi Tradisional Sabit

Sabit termasuk dalam alat umum yang dipakai oleh petani, baik dalam bentuk sabit bergerigi maupun sabit tidak bergerigi (biasa), dimana proses panen dan perontokan merupakan satu paket (on farm) dengan penjelasan sebagai berikut :

  1.  Apabila proses perontokan menggunakan cara di-iles (foot trampling), maka malai padi dipotong pendek (jerami plus malai 3: 30 cm), tetapi apabila perontokan menggunakan cara dibanting (gebot), padi dipotong panjang (jerami plus malai 75 cm).
  2. Apabila memakai mesin perontok Thresher, metode yang digunakan adalah potong panjang  dengan cara “hold on ” (batang padi dipegang oleh tangan dan yang dirontok bagaian malainya). Sedangkan metode potong pendek digunakan untuk thresher dengan cara “throw in ” (seluruh batang padi dimasukkan ke mesin thresher tanpa dipegang oleh tangan).
  3. Letak lokasi sawah juga diperhatikan. Jauh dekatnya dengan rumah petani, akan menjadi pertimbangan apakah padi akan dirontok di sawah atau akan di rumah.
  4. Ada dua tipe tenaga kerja dan pengupahannya, yaitu kerja harian (dibayar dengan uang plus diberi makan) dan kerja borongan (dibayar berdasarkan persentase gabah yang dihasilkan) dengan perhitungan  1 banding 7, aninya untuk sejumlah 7 kaleng gabah, maka enam kaleng gabah untuk pemilik, satu kaleng untuk upah kerja borongan.

Berdasarkan variasi jumlah gerigi pada bilah pisau, sabit bergerigi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : (a) Gerigi kasar, kurang dari 14 gerigi dalamn 1 inci  ; (b) Gerigi sedang, berisi 14 s/d 16 gerigi dalam 1 inci ; (c) Gerigi halus, terdiri dari 16 gerigi dalam 1 inci

Penggunaan alat sabit bergerigi lebih unggul dibanding dengan penggunaan sabit biasa. Petani yang sudah terbiasa menggunakan sabit bergerigi akan merasakan perbedaan yang signifikan apabila menggunakan sabit non bergerigi.

Jika sabit bergerigi sering dipakai maka akan semakin tajam pisau geriginya. Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa pada saat proses panen menggunakan sabit bergerigi terdapat pengaruh signifikan terhadap detak jantung petani.

3. Alat Panen Padi Tradisional Papan Gebyok

Penggunaan alat perontok padi manual tradisional dilakukan setelah semua batang padi sudah dipotong dengan menggunakan sabit/arit. Memanen padi menggunakan sabit lebih cepat daripada dengan alat ani-ani.

Setelah batang padi telah dipotong, langkah selanjutnya adalah memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan cara merontokkannya menggunakan alat sederhana yang disebut papan gebyok yang terbuat dari kayu.

Cara mengoperasikan alat ini dengan memukulkan batang padi pada papan kayu, proses memukulkan batang/tangkai padi ke papan kayu sering disebut dengan istilah gepyok padi.

4. Mesin Panen Padi Tradisional Papan Otelan

Alat perontok padi ini sebenarnya sudah cukup memudahkan karena telah mempercepat petani saat melakukan  proses perontokkan padi.

Namun dalam desain alatnya baru nggunakan teknologi sederhana yaitu dengan memanfaatkan roda berporos atau system otel.

Cara penggunaanya adalah para perontok harus terus menggayuh otelan yang ada pada kanan dan kiri bawah alat perontok padi ini agar dapat terus berputar.

Kelebihan Dan Kelemahan Menggunakan Alat Pemenen Padi Tradisional.

Sejak dulu sampai sekarang alat tradisional ini masih digunakan dikarenakan untuk membuka lapangan kerja bagi buruh panen padi.

Selain membuka lapangan tenaga kerja bagi buruh panen, juga ada beberapa kelebihan lain :

  1. Harga alat panen lebih murah bisa dimiliki oleh setiap petani.
  2. Hasil potongan dengan menggunakan alat tradisional ini lebih bersifat terpilih.
  3. Memberikan kesempatan kerja yang banyak kepada buruh tani/panen padi.

Kapasitas kerja panen secara tradisional ini di ukur dengan jumlah orang /hektar (ha). Sebagai contoh panen dengan alat tradisional ini dibutuhkan 148 jam/orang/ha untuk memotong padi.

Bila panen dengan alat tradisional ini dilakukan satu orang pria maka membutuhkan waktu 148 jam dan sebaliknya bila menggunakan 148 tenaga kerja maka membutuhkan waktu cuma satu jam saja

Didalam beberapa kelebihan menggunakan alat tradisional ini tentu juga tidak luput dari kekurangan yang sebagaimana setiap ada kelebihan pasti ada kekurangan. Kekurangan menggunakan alat tradisional ini antara lain kapasitas kerja rendah.

  1. Kebutuhan tenaga kerja orang banyak.
  2. Kenyamana berkerja rendah.
  3. Biaya panen/hektar relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan alat mekanis.
  4. Kehilangan gabah relatih tinggi dibangdingkan dengan alat mekanis.

Dengan menggunakan alat tradisional ini tingkat kehilangan gabah dilapangan diperkirakan sebanyak 10-14% dari hasil/ha. Kehilangan gabah diakibatkan oleh gabah yang rontok dari tangkainya atau dikarenakan terinjak pada saat pemotongan berlangsung.

Demikianlah pembahasan tentang Mesin Panen Padi Tradisional Dari Zaman ke Zaman semoga bermanfaat bagi kalian semua.