Cara Memanen Padi Menurut Islam : Islamisasi Ritual Metik

Pada artikel kali ini kami  akan mengulas tentang Cara Memanen Padi Menurut Islam : Islamisasi Ritual Metika dan doa memanen padi.

Islamisasi Ritual Metik

Cara memanen padi menurut islam : Ritual metik telah mengalami transformasi.  Awalnya, ritual metik dilaksanakan murni sesuai ajaran nenek moyang. Ritual ini dilaksanakan di sawah menjelang panen tiba. Pasca-kedatangan Islam, sebagian besar praktik ritual metik mulai tampil dengan gaya ritual baru.

Ritual metik hanya diadakan menjelang panen padi dan tidak untuk tanaman yang lain. Karena bagi orang Jawa, tanaman ini yang memiliki keistimewaan.

Keistimewaan yang dimiliki padi adalah masyarakat mengenalnya sebagai salah satu sumber pangan utama bagi mereka. Bahkan, hal ini diperkuat lagi dengan adanya legenda-legenda padi yang sampai hari ini dipercayai oleh masyarakat.

Legenda ini salah satunya berkisah tentang Trisnawati dan Jaka Sudana. Trisnawati, seorang putri Bhatara Guru, raja para dewa, jatuh cinta kepada Jaka Sudana yang hanya seorang manusia biasa. Dalam kemarahannya, ayahnya mengutuknya menjadi butiran padi.

Karena kasihan melihat Jaka Sudana sedih melihat istrinya yang berubah menjadi padi, ia juga mengubah Jaka Sudana menjadi butiran padi. Dengan adanya legenda ini, masyarakat Jawa melakukan ritual metik sebagai wujud penghormatan terhadap mereka.

Petungan

Tidak hanya itu, ada banyak hal unik dari tradisi ini. Terdapat rangkaian tahapan yang panjang sebelum ritual metik ini dilakukan. Satu di antara tahap tersebut adalah petungan. Ulasan mengenai petungan akan saya sampaikan pada opini selanjutnya. Tahapan ini dimulai ketika mendekati musim tanam padi.

Petani mencari sesepuh yang memiliki kemampuan petungan atau penghitungan untuk memilih hari yang tepat guna memulai mempersiapkan tanah yang akan ditanami. Pada hari yang sama, ada slametan kecil di rumah petani. Setelah tanah siap, bibit padi disebar dan menunggu beberapa hari untuk dipindah dan ditanam.

Setelah beberapa minggu masa tanam, padi akan mengalami masa hamil dan merunduk karena berisi. Pada momen itu juga diadakan slametan kecil atau dikenal dengan istilah tingkeban.

Di antara semua rangkaian proses itu, yang dianggap paling penting oleh masyarakat petani di pedesaan adalah ritual metik. Ritual ini menjadi ritual puncak upacara tanam.

Ritual metik dilaksanakan dengan kenduri oleh pemilik tanah dan langsung dilakukan di sawah. Pemilik sawah membawa makanan dan dibagikan kepada siapapun yang berkenan datang dan mengikuti ritual tersebut. Selanjutnya, ritual dibarengi dengan memotong beberapa tangkai padi oleh tukang metik.

Pada hari metik itu seorang tukang metik yang biasanya ditemani oleh pemilik sawah dan tamu- tamu pemilik sawah mengitari sawah beberapa kali, membakar kemenyan dan merapalkan mantra-mantra untuk memohon berkah dari Tisnawati (Mbok Sri) dan Jaka Sudana.

Pemotongan tangkai padi oleh tukang metik disesuaikan dengan petungan yang telah dilakukan pada saat mempersiapakan lahan untuk pertama kalinya. Selanjutnya beberapa tangkai padi yang telah dipotong diletakkan di salah satu sudut rumah pemilik sawah.

Larangan Dalam Islamisasi Ritual Metik

Dalam kepercayaan masyarakat, terdapat larangan untuk tidak membuang ataupun mengambil ikatan padi tersebut hingga musim panen berikutnya tiba. Adanya larangan untuk tidak mengambil ataupun membuang ikatan padi itu adalah sebagai penghormatan kepada sosok Trisnawati ( Mbok Sri ) dengan Jaka Sudana.

Berdasarkan penuturan dari sesepuh di desa tempat saya tinggal, makna utama diadakannya ritual metik ini adalah sempulur. Sempulur merupakan istilah pengharapan dari petani agar dapat merasakan panen yang sama di musim yang akan datang.

Dengan melakukan ritual tersebut, mereka berusaha meminimalisir segala ketidakpastian yang bisa saja terjadi. Petani memang menyatukan dirinya dan menggantungkan seluruh hidupnya pada alam.

Tradisi metik ini hanya dilakukan oleh petani tradisional, yang masih memegang kuat ajaran nenek moyang. Masyarakat masih menjalankan ritual ini secara murni. Ketika terjadi proses Islamisasi di tanah Jawa pada abad ke 14, ritual metik mulai diakulturasikan dengan ajaran Islam. Islamisasi ini dalam perkembangannya merubah tradisi metik yang dihelat oleh petani.

Ritual metik dulunya merupakan slametan langsung di sawah menggunakan mantra-mantra khas Jawa sebagai unsur utama. Namun setelah adanya Islamisasi, ritual metik mengalami pelebaran makna. Ritual metik ini digambarkan sebagai cara mereka berzikir kepada Tuhan yang memberi penghidupan.

Selain itu juga terjadi pergeseran itu tergambar dari mantra-mantra yang dirapalkan. Mantra-mantra yang dirapalkan mulai diwarnai dengan do’a-do’a berbahasa arab seperti do’a sapu jagad yang selalu dibaca sebagai do’a utama dalam ritual metik.

Waktu Pelaksanaan Islamisasi Ritual Metik

Dari segi pelaksanaanya, perubahan itu dapat dilihat dari ritualnya yang berada di rumah petani dan tidak terlihat lagi perayaannya di sawah. Hal ini masih sering dilakukan oleh warga desa sekitar tempat saya tinggal.

Waktu pelaksanaan dan nama ritual metik mengalami pergantian. Ritual metik yang dulu dilakukan menjelang panen raya, saat ini setelah panen usai. Metik saat ini dilaksanakan usai panen tiba karena mereka menyesuaikan tradisi yang telah dianut dengan ajaran Islam.

Sehingga, pelaksanaan ritual itu di samping untuk menjaga tradisi nenek moyang, persembahan kepada alam, juga untuk bersedekah terhadap sesama sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Nama ritualnya pun  berubah menjadi nganyari pari.

Bentuk baru dari ritual metik menunjukkan bahwa orang Jawa memiliki keluhuran yang sangat tinggi. Keluhuran tersebut telihat dari cara mereka yang mampu menerima ajaran baru tanpa meninggalkan tradisi lama.

Doa Memanen Padi

Sebagai ummat Islam yang beriman, layaknya setiap kita akan melakukan pekerjaan apapun hendaknya di dahului dengan berdoa. Selain bertujuan semoga pekerjaan yang kita lakukan berhasil, namun berdoa juga bermanfaat untuk keselamatan bagi diri kita dan orang lain, dan tidak ketinggalan juga semoga pekerjaannya barokah.

Dalam dunia Islam setiap pekerjaan atau tindakan apapun pasti ada Do’anya, sedangkan di dalam ilmu Jawa, Do’a apapun juga pasti ada.

Dalam istilah jawa pun terdapat 1 istilah yang diberi nama Metil, metil secara umum mempunyai makna memetik sebagian padi di sawah, kemudian dengan di lengkapi berbagai macam bahan yag telah disediakan, meliputi : Dekem ayam, kemenyan, sego golong. Hal itu dilakukan sebagai wujud sukur kepada sang pencipta akan hasil tanam yang di peroleh.

Dalam kesempatan kali iini saya akan membagikan artikel terkait Do’a yang henda di baca ketika akan memanen padi yang telah kita tanam dan memasuki tahab memanen.

Berikut ini Do’anya : Para petani disaat menanam tanamannya pastinya menginginkan kelak tanamannya tersebut akan tumbuh dengan subur, serta dapat panen dengan sangat melimpah ruah. Sehingga petani terrsebut bisa mendapatkan hasil yang maksimal serta terhindar dari kerugian.

Dan tentunya sebagai petani muslim Hendaknya petani memohon kepada Allah Subhanallahu Wa Taala semoga rezeki yang di dapat menjadi berkah, baik rezeki yang dari hasil panen di sektor pertanian maupun rezeki dari usaha lainnya 

Itulah artikel tentang Cara Memanen Padi Menurut Islam : Islamisasi Ritual Metik.  Sekian dari kami dan Terima kasih