Usaha Makanan Ringan yang Menguntungkan dan Layak Dicoba

usaha makanan ringan

Usaha makanan ringan adalah usaha berskala rumah tangga yang memiliki peluang sangat bagus untuk saat ini maupun yang akan datang. Permintaan pasar untuk makanan ringan terus mengalir.

Hampir setiap daerah di Indonesia punya banyak ragam kuliner khas masing-masing. Hal ini yang membuat bisnis kuliner tidak akan pernah mati.

Bukan hanya makanan yang mengenyangkan saja seperti rumah makan padang atau warteg. Memilih usaha makanan ringan juga punya peluang tersendiri untuk meraih kesuksesan.

Apalagi salah satu usaha rumahan ini tidak membutuhkan modal yang besar. Tak heran jika anda bisa merintis usaha sendiri hanya dengan modal minimal Rp 100.000 saja.

Disamping itu, Anda juga tidak harus menyewa tempat untuk Anda berjualan. Karena pemasaran untuk makanan sejenis cemilan sangat mudah.

Anda bisa menitipkan ke warung-warung dan minimarket didaerah anda. Sehingga tanpa menyewa kios pun anda bisa tetap meraih banyak keuntungan.

Berikut ini usaha makanan ringan yang layak anda coba.

Usaha Makanan Ringan

Usaha Makanan Ringan

1. Keripik Singkong

Bisa dibilang keripik singkong sudah ada sejak lama. Maka tak heran jika menyebutnya sebagai makanan ringan legendaris.

Keripik singkong menjadi salah satu jenis cemilan yang paling dicari oleh masyarakat karena rasanya yang renyah dan enak.

Tak heran jika para pebisnis berlomba-lomba menjadikan keripik singkong sebagai jenis produk yang mereka andalkan.

analisa usaha makanan ringan keripik singkong:

Modal awal:
  • Mesin perajang singkong : Rp 250.000
  • Alat pres kemasan : Rp 150.000
  • Lain-lain : Rp 100.000
  • Total biaya sebesar Rp 500.000
Biaya operasional perbulan:
  • Singkong 10 kg per hari : Rp 4.000 x 10 kg x 30 = Rp.1.200.000
  • Bumbu-bumbu per hari : Rp 30.000 x 30 = 900.000
  • Minyak goreng 30 liter sebulan : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 10.000 x 15 = Rp 150.000
  • Gaji pegawai 1 orang : Rp 700.000
  • Total biaya sebesar Rp 3.410.000
Omset/pendapatan

Katakanlah dari 10 kg singkong per hari bisa menghasilkan 100 bungkus singkong dengan harga jual Rp 2.000.

Omset yang didapat :
  • (100 bungkus x Rp 2.000) x 30 hari = Rp 6.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset – biaya operasional
  • Rp 6.000.000 – Rp 3.410.000 = Rp 2.590.000.

2. Keripik Tempe

Usaha makanan ringan kriuk yang kedua ialah keripik tempe. Hampir sama dengan keripik singkong.

Keripik tempe juga memiliki tempat tersendiri bagi para penikmat kuliner tanah air. Rasanya yang enak dan gurih menjadikan makanan ini cukup digemari.

analisa usaha makanan ringan keripik tempe:

Modal awal:
  • Mesin pengiris tempe manual : Rp 250.000
  • Alat pres kemasan : Rp 150.000
  • Lain-lain : Rp 500.000
  • Total biaya sebesar Rp 900.000
Biaya operasional perbulan:
  • Tempe kedelai : 100.000 x 30 = Rp.3.000.000
  • Tepung Terigu : 25.000 x 30 = 750.000
  • Tepung Beras : 25.000 x 30 = 750.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 20.000 x 30 = 600.000
  • Minyak goreng 50 liter : 12.000 x 50 = Rp 600.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000
  • Gaji pegawai 1 orang : Rp 700.000

Total biaya sebesar Rp 6.800.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 75 bungkus keripik tempe dengan harga jual Rp 4.000.

Omset yang didapat :
  • (75 bungkus x Rp 4.000) x 30 hari = Rp 9.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 9000.000 – Rp 6.800.000 = Rp 2.200.000.

3. Keripik Tahu

Masih berhubungan dengan bahan baku kedelai. Keripik tahu menjadi salah satu jenis bisnis rumahan yang menjanjikan terutama untuk ibu rumah tangga. Biasa jenis tahu yang sering dijadikan keripik adalah tahu pong.

Berikut ini analisa usaha makanan ringan keripik tahu:

Biaya operasional perbulan:
  • Tahu : 15.000 x 30 = Rp.450.000
  • Tepung maizena : 25.000 x 30 = 750.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 25.000 x 30 = 750.000
  • Minyak goreng 30 liter : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji Rp : 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000

Total biaya operasional sebesar Rp 2.510.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 25 bungkus keripik tahu denganharga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (25 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 3.750.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 3.750.000 – Rp 2.510.000 = Rp 1.240.000.

4. Keripik Pisang

Keripik Pisang

Keripik pisang mungkin menjadi salah satu makanan ringan tradisional. Namun, bukan berarti akan kalah bersaing dengan jenis makanan ringan jaman sekarang. Buktinya banyak orang yang sukses berbisnis keripik pisang.

analisa usaha makanan ringan keripik pisang:

Peralatan usaha:
  • Mesin perajang pisang : 250.000
  • Alat pres kemasan : 150.000

Total 400.000

Biaya operasional perbulan:
  • Pisang gepok : 50.000 x 30 = Rp.1.500.000
  • Air kapur : 5.000 x 30 = 150.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 5.000 x 30 = 150.000
  • Minyak goreng 30 liter : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 10.000 x 15 = Rp 150.000

Total biaya operasional sebesar Rp 2.410.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 30 bungkus keripik pisang dengan harga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (30 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 4.500.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 4.500.000 – Rp 2.410.000 = Rp 2.090.000.

5. Keripik Kentang

Dari jaman dahulu hingga sekarang, keripik kentang selalu menjadi primadona diantara jenis keripik lainnya. Hal ini wajar mengingat keripik kentang memang sangat enak dan renyah.

Sudah begitu, jarang sekali menemukan keripik kentang yang dijual dengan kisaran harga Rp 1000 atau Rp 2000.

analisa usaha makanan ringan keripik kentang:

Peralatan usaha:
  • Mesin perajang kentang : 250.000
  • Alat pres kemasan : 150.000

Total 400.000

Biaya operasional perbulan:
  • Kentang : 150.000 x 30 = Rp 4.500.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 40.000 x 30 = 1.200.000
  • Minyak goreng 50 liter : 12.000 x 50 = Rp 600.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 8 = Rp 160.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000

Total biaya operasional sebesar Rp 6.660.000

Omset/pendapatan:

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 50 bungkus keripik keripik denganharga jual Rp 6.000.

Omset yang didapat:
  • (50 bungkus x Rp 6.000) x 30 hari = Rp 9.000.000
Keuntungan bersih yang didapat
  • omset -biaya operasional
  • Rp 9.000.000 – Rp 6.660.000 = Rp 2.340.000.

6. Keripik Sukun

Satu lagi jenis keripik yang cukup populer dikalangan para penikmat cemilan ialah keripik sukun. Makanan ini sangat enak dan renyah jika bisa membuatnya dengan benar.

Namun, kendala untuk jenis keripik ini ialah bahan baku sukun yang cukup sulit dicari. Apalagi jika tidak pada musimnya.

analisa usaha makanan ringan keripik sukun:

Peralatan usaha:
  • Mesin perajang buah sukun : 250.000
  • Alat pres kemasan : 150.000

Total 400.000

Biaya operasional perbulan:
  • Buah sukun : 130.000 x 30 = Rp 3.900.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 20.000 x 30 = 600.000
  • Minyak goreng 50 liter : 12.000 x 50 = Rp 600.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000

Total biaya operasional sebesar Rp 5.300.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 50 bungkus keripik keripik denganharga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (50 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 7.500.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 7.500.000 – Rp 5.300.000 = Rp 2.200.000.

7. Keripik Bayam

Ini dia jenis keripik yang dibuat dari sayuran atau jenis dedaunan. Orang biasa menyebutnya keripik bayam. Rasanya sangat enak, gurih dan renyah. Hal ini yang membuat keripik bayam sangat diminati oleh para konsumen.

analisa usaha makanan ringan keripik bayam:

Biaya operasional perbulan:
  • Bayam : 50.000 x 30 = Rp 1.500.000
  • Tepung : 50.000 x 30 = Rp 1.500.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 20.000 x 30 = 600.000
  • Minyak goreng 50 liter : 12.000 x 50 = Rp 600.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 8 = Rp 160.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000

Total biaya operasional sebesar Rp 4.560.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 60 bungkus keripik keripik denganharga jual Rp 4.000.

Omset yang didapat:
  • (60 bungkus x Rp 4.000) x 30 hari = Rp 7.200.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 7.200.000 – Rp 4.560.000 = Rp 2.640.000.

8. Rempeyek Kacang

Rempeyek Kacang

Apalagi rempeyek kacang merupakan makanan ringan yang juga cocok disajikan pas hari-hari besar seperti hari raya idul fitri.

Sehingga rempeyek sangat cocok dijadikan peluang usaha menjelang lebaran. Anda bisa menjual dengan kemasan kiloan. Karena harga per kilonya bisa mencapai Rp 100.000 di hari raya.

analisa usaha makanan ringan rempeyek kacang:

Biaya operasional perbulan:
  • Tepung beras : 7.000 x 30 = Rp 210.000
  • Kacang tanah : 3.000 x 30 = Rp 90.000
  • Santan : 4.000 x 30 = 120.000
  • Kuning telur : 3000 x 30 = Rp 90.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 2.000 x 30 = 60.000
  • Minyak goreng 50 liter : 12.000 x 50 = Rp 600.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 8 = Rp 160.000
  • Plastik pembungkus : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.430.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 20 bungkus rempeyek kacang dengan harga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (20 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 3.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset – biaya operasional
  • Rp 3.000.000 – Rp 1.430.000 = Rp 1.570.000.

9. Kerupuk Seblak

Jika anda mencari usaha makanan ringan serba 2000, maka anda bisa memilih bisnis kerupuk seblak.

Belakangan ini kerupuk khas Bandung ini cukup digemari oleh para konsumen karena adanya keanekaragaman rasa yang disajikan.

Selain rasa pedas yang terus dipertahankan. Ada variasi rasa lain seperti rasa pedas manis, keju, barbeque dan balado.

analisa usaha makanan ringan kerupuk seblak:

Biaya operasional perbulan:
  • Kerupuk seblak mentah : 16.000 x 30 = Rp 480.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 6.000 x 30 = Rp 180.000
  • Minyak goreng 30 liter : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 5.000 x 10 = Rp 50.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.170.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 40 bungkus kerupuk seblak dengan harga jual Rp 2.000.

Omset yang didapat:
  • (40 bungkus x Rp 2.000) x 30 hari = Rp 2.400.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset – biaya operasional
  • Rp 2.400.000 – Rp 1.170.000 = Rp 1.230.000.

10. Kacang Bawang

Makanan dengan bahan baku kacang sangat disukai oleh para penikmat cemilan. Mulai dari kacang kulit, kacang atom, kacang polong, kacang koro dan kacang bawang.

Khusus kacang bawang saya masukkan dalam daftar usaha makanan ringan mengingat cara pembuatannya yang mudah namun bisa meraih omset yang besar.

analisa usaha makanan ringan kacang bawang:

Biaya operasional perbulan:
  • Kacang tanah mentah : 25.000 x 30 = Rp 750.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 10.000 x 30 = Rp 300.000
  • Minyak goreng 30 liter : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 5.000 x 10 = Rp 50.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.560.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 100 bungkus kacang bawang dengan harga jual Rp 1.000.

Omset yang didapat:
  • (100 bungkus x Rp 1.000) x 30 hari = Rp 3.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp Rp 3.000.000 – Rp 1.560.000 = Rp 1.340.000.

11. Makaroni

Makaroni menjadi salah satu jenis usaha makanan ringan rumahan yang cukup menjanjikan.

Alasannya karena banyaknya permintaan pasar terkait makaroni yang sudah matang baik dari harga kemasan Rp 1.000 hingga kiloan.

analisa usaha makanan ringan makaroni:

Biaya operasional selama sebulan:
  • Makaroni mentah : 15.000 x 30 = Rp 450.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 3.000 x 30 = Rp 90.000
  • Minyak goreng 30 liter : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 5.000 x 10 = Rp 50.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.050.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 50 bungkus makroni dengan harga jual Rp 1.000.

Omset yang didapat:
  • (50 bungkus x Rp 1.000) x 30 hari = Rp 1.500.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset – biaya operasional
  • Rp Rp 1.500.000 – Rp 1.040.000 = Rp 450.000.

12. Basreng

Basreng

Basreng adalah singkatan dari bakso goreng. Tidak seperti bakso pada umumnya yang disajikan dengan mie dan kuah. Basreng lebih cocok disebut makanan ringan karena mirip seperti keripik.

analisa usaha makanan ringan basreng:

Biaya operasional selama sebulan:
  • Bakso ikan : 25.000 x 30 = Rp 750.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 10.000 x 30 = Rp 300.000
  • Minyak goreng : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 10 = Rp 200.000
  • Plastik pembungkus : Rp 10.000 x 10 = Rp 100.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.710.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 20 bungkus basreng dengan harga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (20 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 3.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset -biaya operasional
  • Rp 3.000.000 – Rp 1.710.000 = Rp 1290.000.

13. Usus Crispy

Dibeberapa daerah, seringkali usus ayam hanya dijadikan sebagai makanan ikan lele. Namun ada juga yang tetap disajikan sebagai lauk tambahan.

Usus ayam ternyata juga bisa dijadikan usaha makanan ringan rumahan yang berharga mahal.

analisa usaha makanan ringan usus crispy:

Biaya operasional selama sebulan:
  • Usus ayam : 18.000 x 30 = Rp 540.000
  • ¼ kg Tepung terigu : 2.500 x 30 = Rp 75.000
  • ¼ kg Tepung beras : 3.500 x 30 = Rp 105.000
  • Bumbu-bumbu : Rp 5.000 x 30 = Rp 150.000
  • Minyak goreng : 12.000 x 30 = Rp 360.000
  • Isi ulang gas elpiji : Rp 20.000 x 5 = Rp 100.000
  • Plastik pembungkus : Rp 10.000 x 10 = Rp 100.000

Total biaya operasional sebesar Rp 1.430.000

Omset/pendapatan

Asumsikan dalam sehari hari bisa menghasilkan 20 bungkus usus crispy dengan harga jual Rp 5.000.

Omset yang didapat:
  • (20 bungkus x Rp 5.000) x 30 hari = Rp 3.000.000
Keuntungan bersih yang didapat:
  • omset – biaya operasional
  • Rp 3.000.000 – Rp 1.430.000 = Rp 1.570.000.

Tips Sukses Seorang Pemula dalam Usaha Makanan Ringan

Tips Sukses Seorang Pemula dalam Usaha Makanan Ringan

Bisnis makanan ringan tentu memerlukan ketekunan dan manajemen yang baik. Kebanyakan pengusaha sukses makanan ringan adalah pengusaha yang sudah lama berjualan dan memiliki pelanggan tetap.

Ditambah makanan ringan yang dipasarkan sangat inovatif dan juga rasanya enak karena kunci utama bagi para pemula dalam bisnis makanan ringan adalah kreatif dan inovatif.

Ada banyak hal yang mempengaruhi kesuksesan seorang pemula dalam bisnis makanan ringan seperti yang akan kita bahas berikut ini.

1. Makanan Ringan Mempunyai Kualitas Bagus

Makanan ringan yang akan dijual harus mempunyai kualitas yang bagus, baik dari segi bahan yang digunakan, segi pengolahan maupun segi pengemasan.

Bahan yang digunakan haruslah bahan yang higienis dan tentunya tidak mengandung zat yang berbahaya.

Cara pengolahannya harus sesuai dengan aturan, misalnya goreng lah camilan dengan minyak yang berkualitas dan diganti secara berkala.

Kemudian kemaslah makanan ringan yang sudah digoreng dengan menggunakan kemasan yang baik serta menarik.

2. Harus Penuh Inovasi Baik Dalam Produk Maupun Pada Cara Pemasarannya

Pemenang bisnis makanan ringan adalah pengusaha yang selalu berinovasi tinggi untuk menciptakan makanan ringan yang berbeda, sehingga produk tersebut lebih mudah dicari dan dibedakan oleh konsumen.

Jadi tidak masalah produk yang dijual sudah ada di pasaran, asalkan produk yang dijual tersebut tentunya berbeda secara inovasi dengan produk yang sudah beredar.

3. Ciptakan “Relationship” dengan Pelanggan untuk Menjaga Loyalitas

Layani pelanggan dengan sangat baik dan bijaksana, tidak peduli apakah Anda kenal atau tidak dengan pelanggan tersebut.

Ciptakan kesan yang mendalam kepada pelanggan, dengan senyum dan sapa bukan hanya dengan sekedar kata-kata, sehingga pelanggan dengan senang hati akan berkunjung kembali.

Selain itu manfaatkan media sosial untuk mem-branding makanan ringan yang dijual untuk membangun hubungan yang dekat dengan pelanggan.

Sebab hal ini tentu akan memberikan dampak positif, seperti iklan gratis dari mulut ke mulut pelanggan. Iklan dari mulut ke mulut terbukti sangat efektif untuk menjaring pelanggan lain serta meningkatkan penjualan Anda.

4. Strategi Penjualan yang Cocok dengan Segmen Pasar yang Diincar

Strategi penjualan yang bagus tentu akan mempengaruhi perkembangan usaha kedepannya.

Karena itu sebagai pemula bisnis makanan ringan, Anda harus bisa membangun strategi penjualan yang tepat dan juga mampu membaca pasar untuk meningkatkan penjualan.

Seperti misalnya memberi diskon, menambah bobot makanan, atau dengan membagikan sampel produk secara gratis kepada masyarakat di area yang menjadi pangsa pasar.

5. Visioner, Think Big, Think Positif

Selalu berfikir ke depan dan menyeluruh serta berpikiran positif harus ditanamkan dalam jiwa dan pikiran seorang pebisnis. Dalam menjalankan bisnis tentunya dituntut untuk melayani pelanggan dengan sangat baik.

Sehingga pikiran yang jernih akan sangat membantu berfikir kedepan dengan tenang.

Jauhkan pikiran sempit dan negatif karena apa yang dipikirkan dapat menjadi kenyataan, sehingga tentu sangat penting untuk selalu berpikir secara positif.

 

Sekian artikel tentang usaha makanan ringan yang bisa penulis lintas usah berikan. Jika berkenan, silahkan dicek juga cara membuat donat empuk dan mengembang yang tentunya enak dan mudah dibuat. Semoga bermanfaat.